Kopi dan Seni
Sejak pertama kali diperkenalkan oleh Belanda pada 1869 hingga kini, kopi telah menjadi salah satu minuman yang disukai oleh sebagian besar orang di Indonesia. Paling tidak sekali dalam seumur hidup kita pernah mencicipi rasanya. Sejak 2010-an juga fenomena kafe dan kopi khas (artisan coffee) muncul sebagai tren gaya hidup serta model ekonomi baru dan menjamur di kota-kota urban di Indonesia. Tidak terkecuali bagi kedua seniman yang karyanya sedang Anda nikmati ini, merupakan bagian dari perkembangan minuman hitam pekat ini.
Dwi Wicaksono Suryasumirat atau lebih dikenal sebagai āUbeā adalah pelukis dengan gaya komikal yang juga penikmat kopi garis keras. Saya kebetulan cukup beruntung berkawan dengannya sejak SMA dan mengetahui bagaimana ketertarikannya terhadap kopi khas mulai muncul sampai akhirnya ia berinisiatif menjalankan bisnis kopinya sendiri--dengan dukungan dari seorang kawan SMA juga--yang diberi nama āKuluk-Kulukā. Tempat yang Anda pijak sekarang merupakan rumah pribadi orangtuanya yang dialihfungsikan sebagai ruang ngopi dan juga makanan rumahan. Sebagai seniman, Ube menganggap kopi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses artistiknya (sebagai teman begadang, misalnya). Ketertarikannya pada kopi ini juga membawanya beberapa kali berkolaborasi dengan penggila kopi lainnya seperti membuat merchandise, mengerjakan ilustrasi dan juga logo beberapa rumah kopi. Karya-karya yang ia tampilkan dalam program ini adalah sebagian dari aktivitas-aktivitas tersebut.
Ignasius Tommy Febrian, atau akrab disapa Tommy adalah salah satu seniman keramik handal di Jakarta. Saya (lagi-lagi beruntung) berkesempatan untuk belajar bersamanya selama menempuh pendidikan kriya keramik di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Kedekatannya dengan kopi mungkin tidak seerat Ube, namun sebagai keramikus, Tommy banyak bersentuhan pula dengan dunia kopi melalui karya-karya perangkat minum yang ia produksi di studio pribadinya di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Yang menarik, sistematika dan kompleksitas produksi kopi (terutama kopi khas) dan keramik sepertinya setaraf. Keduanya butuh pengetahuan yang menyeluruh atas bahan (tanah liat dan biji kopi), proses pengerjaan, dan yang paling penting proses pembakaran (atau roasting dalam konteks kopi). Maka tidak heran, kalau banyak rumah-rumah kopi khas banyak menggunakan perangkat keramik yang dibuat secara khusus (custom).
Satu hal lagi yang juga sepertinya bersilangan antara Ube dan Tommy adalah soal kegagalan. Seorang keramikus dan penggila kopi sama-sama, perlu jam terbang tinggi untuk memahami bagaimana menciptakan produk keramik dan minuman kopi yang baik, dan tentu saja guru terbaik adalah kegagalan. Saya tidak berani bertaruh berapa banyak kegagalan yang mesti mereka lewati untuk mencapai tingkat keahlian yang mereka miliki sekarang; gelas yang retak atau kopi yang terlalu pahit , tapi semua pelajaran dari kegagalan itu tentu berbanding lurus dengan kepuasan yang didapat oleh orang yang mengkonsumsi karya-karya mereka. Maka, bagi Anda yang ada di dalam ruang pamer kecil ini, selamat memandangi hasil karya dari dua orang yang terhubung oleh kopi dan seni dalam satu atau banyak hal.
Selamat berpameran, Ube dan Tommy!
Yamaguchi, 26 Agustus 2023 Leonhard Bartolomeus
Profil:
Dwi Wicaksono Suryasumirat atau lebih dikenal dengan nama UBE lahir di Depok 16 Desember 1987. UBE menempuh studi di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian dan lulus pada 2010. Selain aktif berkarya secara individu, sejak 2011 hingga sekarang UBE juga aktif mengerjakan proyek seni dan pameran bersama kelompok Gambar Selaw ā kelompok seniman muda yang fokus mengadakan kegiatan menggambar bersama, yaitu kelompok seniman yang punya kepercayaan bahwa āSemua Orang Bisa Menggambarā. Sejak 2018 hingga sekarang mengelola Pokrameame Studio bersama sekumpulan seniman lain. Selain itu ia membuat āmerchandiseā dalam bentuk suguhan kopi bernama Kuluk-Kuluk; karena kopi tidak pernah lepas dari keseharian Ube.
Ignasius Tommy mengelola dan bekerja di studio keramik mandiri yang kemudian bertumbuh menjadi ruang alternatif dan inkubator keramik untuk awam. Bagi Tommy, keramik adalah benda mati, namun proses membuat keramiknyalah yang ia anggap hidup. Dari proses berkeramik ini ia belajar untuk memahami proses kreatif, manajemen produksi custom order, serta toleransi saat mengajar orang lain di kelas keramiknya. Meskipun tidak pernah puas dengan hasil keramiknya, Tommy merasa mendapat apreasiasi tertinggi ketika keramik yang ia buat dapat menjadi bagian dari hidup seseorang dalam menikmati waktu di hidup mereka. Hal inilah yang membuat ia percaya bahwa keramik akan terus tumbuh menjadi kebudayaan baru atau paling tidak menjadi siklus tren yang berulang.
PS: Kalau mampir, jangan lupa untuk mencicipi menu baru @kulukkulukrumahan, Nasi Rawon!