not-a-note

Membaca Hauritsa

Tengah November lalu, saya mendapat pesan singkat dari Hauritsa, "Tolong dibantu ya nanti kurator saya." Tanpa memahami konteks pesan tersebut saya hanya mengiyakan saja. Belakangan Angga Cipta (lebih beken sebagai Acip) mengabarkan bahwa ia sedang bersiap-siap menyelenggarakan pameran tunggal ketiga Hauritsa dan akan bertindak sebagai kurator pertama. Acip kemudian mengatakan akan mengajak dua orang lagi untuk turut menangani tata letak karya di ruang pameran. Yang pertama adalah Nuraini Juliastuti, seorang akademisi yang sedang tinggal di Belanda dan yang kedua adalah saya sendiri.

Idenya sederhana--paling tidak begitu menurut Ica, ketika saya berbicara dengannya untuk memahami lebih jauh tentang pameran ini. Acip yang pertama kali mengusulkan agar ada kolaborasi dengan orang lain, dalam hal ini penulis. Saya rasa ide ini muncul karena karya Hauritsa cenderung dekat dengan teks, sehingga lumrah rasanya. Namun, ide ini kemudian berganti menjadi kolaborasi dengan kurator untuk membaca dan mengubah susunan karya di ruang tempat Anda berada sekarang. Ide yang simpel tapi menarik, karena karya-karya Hauritsa memang punya banyak sekali makna yang tentu akan berbeda bagi setiap orang. Tapi menjadi kurator terakhir dalam sesi kolaborasi tentu saja menjadi tantangan sendiri, karena apa lagi yang mau saya ubah dan mainkan?

Maka sembari membayangkan soal argumen konsep dari tata letak akan saya usulkan ke Acip, saya mengingat-ingat kembali percakapan saya dengan Hauritsa pada beberapa kesempatan.

Saya lupa kapan tepatnya pertama kali berbicara serius dengan Hauritsa--untuk selanjutnya saya hanya akan menggunakan nama panggilannya, Ica. Tapi yang saya ingat adalah kami pernah bercakap-cakap di akhir 2015 tentang rencananya untuk memamerkan beberapa karya visual yang telah ia persiapkan. Waktu itu Ica baru saja melakukan sebuah proyek kolaborasi bersama seorang teman di kamar mandi RURU Shop--masih di ruangrupa lama, Tebet Barat. Di dalam ruang kamar mandi berukuran sekitar 2x2 meter tersebut, ia menuliskan beberapa teks serta melukiskan beberapa obyek yang berkaitan dengan kamar mandi: alat kelamin, alat mandi, acara buang hajat, dan lain sebagainya. Teks yang ia buat cukup sederhana, umumnya berpola rima, dan isunya banyak berpusat pada soal percintaan.

Mungkin itu pertama kali pula saya berbicara cukup panjang dengan Ica terkait dengan kegemarannya untuk menulis puisi--hobi yang terhitung cukup jarang saya temui di kawan-kawan ruangrupa saat itu. Meski ia sendiri enggan untuk menyebut teks-teks tersebut sebagai puisi, melainkan puisi tapi grafis. Karena memang yang memberikan perbedaan justru ketika ia menambahkan atau mengawinkan (?) teks-teks tersebut dengan gambar ilustrasi khas buatannya. Atau dalam pemahaman Ica, teks-teks itu baru "menjadi" puisi ketika ditemani oleh ikon-ikon grafis di dalamnya.

ā€œElu ngerti kan kenapa dari tadi gue selalu bilang teks, bukan puisi? Soalnya dia gak terdiri dari teks doang, tapi juga ada grafisnya supaya lengkap.ā€ Demikian ujarnya, ketika kami berbincang untuk persiapan pameran tunggal pertamanya di RURU Gallery pada akhir 2018.

Tentang hubungan antara teks dan gambar dalam konteks seni rupa kontemporer, konsep yang ditawarkan oleh Ica sebetulnya bukan hal yang baru. Ada banyak perupa kontemporer yang bekerja dengan teks sebagai elemen yang dominan dalam presentasi visualnya, terutama dari periode Gerakan Dada. Hugo Ball, salah satu dedengkot gerakan pembaruan seni ini bahkan menyatakan bahwa kata-kata dan gambar adalah satu. Contoh lain yang cukup ekstrim adalah karya-karya John Baldessari ataupun Lawrence Weiner--yang baru saja mangkat bulan lalu--yang secara total hanya menggunakan teks sebagai elemen utama karyanya.

Kedekatan Hauritsa dengan teks bukan hal yang muncul tiba-tiba. Secara samar ia mengingat perkenalannya dengan teks—terutama dalam bentuk puisi—terjadi ketika ia masih di bangku sekolah dasar. Proses membaca dan memahami makna huruf, kata, dan kalimat menjadi sebuah hal yang menyenangkan. Ia juga merasa bahwa berkomunikasi dengan teks adalah cara yang nyaman untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Teks baginya pada saat itu, adalah sesuatu yang sangat intim. Hobi ini kemudian dilanjutkan pada medio 2000-an dengan menggunakan situs Multiply.com tempat ia mengunggah teks-teks puisi dan mungkin melarikan diri dari kehidupan sehari-hari.

Hubungan antara teks, gambar, dan ruang ini terus menjadi elemen yang saling terkait dalam proses kreatif yang dilakukan oleh Ica. Pameran pertamanya "Lampunya Sudah Padam, Tapi Bayangannya Masih Ada" (RURU Gallery, 2018) meletakkan fokus pada teks-teks "temuan" yang menurutnya diambil dari ruang kota Jakarta. Sementara di pameran keduanya "Mencium Rindu" (Galeri A Tiga, 2019), ia menyampaikan kerinduannya pada ruang-ruang yang pernah ia tempati, baik fisik maupun digital. Pada kedua pameran tersebut, ia mencoba untuk bermain-main dengan ruang dan medium. Kami sempat berbincang soal kemungkinan untuk membongkar teks-teks buatannya dan memindahkannya ke dalam objek atau ruang tiga dimensi untuk pameran tunggalnya yang lain.

Karena itu pula, menurutnya karya-karya dalam pameran ketiga ini lahir dari "ruang" kehidupan yang terisolasi selama pandemi. Meskipun tidak semua gambar dibuat semasa pandemi, tapi ia memilih beberapa di antaranya untuk merepresentasikan perasaannya merasa semua serba dibatasi--soal ini juga direpresentasikan dalam visual-visual yang terpotong (Mungkin ini yang dimaksud Acip dengan menyebutnya sebagai "zoom in").

Maka ketika kemudian dikabari oleh Angga Cipta (Acip) untuk membantu menjadi rekan kurator untuk pameran tunggal ketiga Hauritsa, saya cukup kaget ketika menyimak karya-karya yang akan dipamerkan menjadi sangat minimalis, hampir-hampir tidak ada teks-teks genit romantis yang biasa muncul dalam karya-karya sebelumnya dan bahkan mediumnya menjadi sangat konvensional: cat akrilik pada kanvas.

Tapi saya tidak seharusnya terkejut.

Ica sejatinya bukan tipe seniman yang setia pada satu medium. Ketika menyelesaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa seni grafis di Institut Kesenian Jakarta, konon, ia adalah mahasiswa pertama dari studio grafis yang mengerjakan tugas akhir dengan medium instalasi di kampusnya. Selepasnya ia bekerja di banyak bidang: sebagai desainer grafis, bekerja dengan perangkat lunak, merangkai kisi-kisi komposisi buku; sebagai seniman di ArtLab ruangrupa, bekerja dengan pemetaan, simbol, serta observasi lapangan; yang terakhir membentuk kolektif seniman Jakarta Wasted Artist (JWA) dengan pendekatan multimedia audio-visual. Maka perubahan-perubahan karakter, medium, serta pola presentasi sudah menjadi bagian dari proses kreatifnya.

Dalam percakapan singkat di tengah persiapannya mengerjakan pameran ini, Ica menyampaikan tentang perasaan positif yang muncul ketika banyak teman menyampaikan pandangan tentang perubahan karakter dalam karyanya. Karena ia sendiri merasa masih khawatir untuk sama sekali lepas dari digital dan pameran ini merupakan percobaan kedua untuk melakukan transisi antar dunia tersebut. Di sisi lain, ia mulai terbiasa dengan menggunakan gambar sebagai pengganti kata-kata yang biasanya dominan. Sehingga dalam karya-karya baru ini, teks yang ditampilkan menjadi sangat sederhana. Lagipula ia merasa tidak ada hal yang lebih superfisial dibandingkan apa yang kita alami dalam dua tahun terakhir, sehingga ia hanya ingin membuat karya yang sederhana, yang memungkinkan banyak orang melakukan interpretasi secara bebas.

"Ya sederhananya, gue emang pengen kangen suasana ruang pameran aja, back to basic, bikin pameran terus bisa berinteraksi secara langsung sama orang." Karya-karya yang Anda nikmati dalam pameran ini dipilih berdasarkan ingatan dan perasaan Ica selama masa-masa awal pandemi. Tentang bermacam proses yang terjadi dalam cara kita berinteraksi, perubahan-perubahan di masyarakat, serta cerita-cerita dan orang di sekitarnya yang semuanya dialami dengan sangat dekat dan intens. Maka tidak heran bagaimana simbol-simbol domestik menjadi salah satu yang dominan dalam pameran ini--seperti telah dijelaskan dengan sangat apik di kuratorial kedua--bagaimana Ica memasuki ruang-ruang privat digital melalui stiker-stiker WhatsApp yang dibuat sebagai cara untuk menyemangati dan memberikan aura positif bagi kawan dan orang-orang terdekatnya.

Maaf, saya malah lupa menjelaskan soal tata letak pameran usulan saya ini. Tidak ada konsep, tidak ada cerita yang kompleks, tidak ada teori. Saya hanya membayangkan pesan apa yang sedang disampaikan oleh Ica untuk saya ataupun Anda. Kanvas 30x30 cm ini semacam puzzle yang merupakan caranya berkomunikasi tentang berbagai macam hal. Yang sebetulnya juga bisa dibayangkan sebagai cara untuk membaca apa yang terjadi di sekitar kita. Terlepas dari "waktu penciptaannya" Hauritsa menampilkan karya-karya ini sebagai salah satu cara untuk menjaga kewarasan, menjaga empati, serta menjaga perhatiannya pada orang lain di sekitarnya. Maka, saya juga mempersilakan Anda untuk dengan senang hati, untuk menikmati dan menyusun kembali narasi dari tiga puluh karya di pameran ini, sembari membayangkan bahwa kita sedang diajak untuk turut membaca Hauritsa; sebagai kawan, sebagai keluarga, dan sebagai manusia.

Salam,

.barto

#curatorial